Warta Madrasah

Kakankemenag Kab Tegal Dorong Positive Education dan Praktik KBC untuk Wujudkan Madrasah Smart and Happy

18 Aug 2026 Administrator

Tegal – MTsN 1 Tegal menggelar kegiatan “Penguatan Karakter melalui Education Building Menuju Madrasah Berdaya dan Berdampak” bersama Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tegal, H. Ahmad Muhdzir. Kegiatan yang berlangsung di aula madrasah tersebut diikuti oleh seluruh guru dan tenaga kependidikan MTsN 1 Tegal dalam dua sesi.


Kegiatan tersebut menjadi ruang penguatan bagi guru dan tenaga kependidikan untuk merefleksikan kembali praktik pendidikan di tengah perubahan karakter dan tantangan yang dihadapi murid pada era saat ini. Pendidikan di madrasah diharapkan tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga mampu membangun karakter, kesejahteraan, ketangguhan, dan makna dalam kehidupan murid.


Salah satu materi yang ditekankan adalah penerapan konsep positive education. Ahmad Muhdzir mengajak para guru untuk mempraktikkannya dalam proses pembelajaran di madrasah.

Mengacu pada gagasan Lea Waters melalui Positive Education: Transforming Children, Parents and Schools, positive education merupakan pendekatan yang memadukan pendidikan akademik dengan psikologi positif. Pembelajaran tidak hanya mengembangkan academic skills, tetapi juga memperhatikan aspek wellbeing, character, resilience, meaning, dan kekuatan personal murid.


Menurutnya, pendekatan tersebut penting diterapkan karena keberhasilan akademik tidak selalu sama dengan kepuasan dan kebahagiaan dalam kehidupan. Madrasah perlu menjadi lingkungan yang mampu menumbuhkan kebahagiaan, ketangguhan, makna, serta kekuatan karakter murid.


Ahmad Muhdzir juga mengajak para guru melihat berbagai tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini. Ia menyampaikan data global bahwa sekitar 10–20 persen anak dan remaja mengalami gangguan kesehatan mental, sementara sekitar separuh gangguan mental mulai muncul pada usia 14 tahun.


Kondisi tersebut menjadi refleksi bagi dunia pendidikan. Ia mengajak para pendidik mempertanyakan, “Apakah kita sedang menyiapkan generasi emas atau generasi cemas?” Gagasan tersebut dikaitkan dengan buku The Anxious Generation karya Jonathan Haidt yang membahas berbagai tantangan generasi muda di tengah perubahan sosial dan perkembangan teknologi.


Dalam menghadapi kondisi tersebut, madrasah diharapkan tidak hanya menjadi tempat yang membuat murid smart, tetapi juga happy. Guru perlu menciptakan ruang pembelajaran yang aman, positif, dan memberikan kesempatan kepada murid untuk berkembang secara akademik maupun emosional.


Sejalan dengan konsep positive education, Ahmad Muhdzir juga mengajak seluruh guru untuk menerapkan secara menyeluruh KBC (Kurikulum Berbasis Cinta) yang telah dikembangkan oleh Kementerian Agama dalam pembelajaran.


Menurutnya Nilai-nilai KBC perlu benar-benar hadir dalam praktik pendidikan melalui cara guru mengajar, berkomunikasi, memberikan keteladanan, serta membangun hubungan yang positif dengan murid.


Guru didorong untuk mengintegrasikan nilai-nilai KBC sesuai dengan karakteristik mata pelajaran dan kondisi murid. Dengan demikian, pembelajaran tidak hanya berorientasi pada penyelesaian materi dan pencapaian nilai, tetapi juga menjadi ruang untuk menumbuhkan karakter, kepedulian, kasih sayang, tanggung jawab, ketangguhan, dan sikap saling menghargai.


Penerapan KBC tersebut dinilai memiliki keterkaitan erat dengan prinsip positive education. Keduanya sama-sama mendorong pendidikan yang memandang murid secara utuh, bukan hanya dari kemampuan intelektual, tetapi juga dari sisi karakter, emosi, hubungan sosial, dan kesejahteraannya.


Guru pun diharapkan mampu menjadikan kelas sebagai ruang tumbuh yang positif. Murid memperoleh ilmu sekaligus pengalaman nilai melalui interaksi dengan guru dan teman-temannya. Keteladanan guru menjadi bagian penting dalam menghadirkan nilai-nilai tersebut secara nyata.


Kegiatan Education Building ini menjadi bagian dari ikhtiar MTsN 1 Tegal untuk mewujudkan madrasah yang berdaya dan berdampak, madrasah yang tidak hanya menghasilkan murid berprestasi secara akademik, tetapi juga cerdas, berkarakter, tangguh, memiliki kepedulian, serta tumbuh dalam lingkungan pendidikan yang positif dan penuh nilai cinta.